Langitku di Makassar

Blog ini berceritra dibalik sebuah peristiwa,keajaiban kehidupan yang kulalui selama hidupku..Ada saja hal yang terselip pada sebuah kehidupan..maka kutulislah dalam sebuah karangan kehidupan..juga ada kisah hati..selamat membaca....

Selasa, 25 Desember 2007

PINDAH CERITA KE BLOG LAIN

PENGANTAR REDAKSI:

Mulai pekan ini, ceritraku di langitmakassar akan kuakhiri. Setiap tulisanku di sini selalui kuwarnai kegundahan berpaut dengan emosi. Saya takut berdosa, sehingga kulimpahlan ceritraku di blog lain. Silakan klik www.dermagamakassar.blogspot.com. Tak jauh beda isinya.Tapi pastilah ada beberapaa perbedaan di sana-sini. Mari kita simak sama-sama...sampai jumpa di dermagamakassar.

Jumat, 07 Desember 2007

JENEPONTO:Tali Kasih Yang Hilang

"Kita patut berduka cita atas meninggalnya seorang polisi di Jeneponto. Kita sungguh sangat menyesal atas insiden itu. Tapi saya juga sangat menyesalkan dan menyayangkan polisi yang menembaki warga. Apakah memang polisi dalam penanganan eksekusi bisa menjadi eksekutor eksekusi tanah?apakah kira-kira tepat jika polisi cukup sebagai pengamanan saja jika sudah terjadi keributan?bukan menembaki warga. Tapi sayang, sekarang tidak ada lagi yang mau membela rakyat di posisi yang keliru ini".

Begitulah tulisan Short Massage Service atau istilah bekennya sekarang adalah SMS ke salah seorang temanku yang masih aktif sebagai penggiat LSM. "Karena ada korban jiwa maka sudah pasti pola pendekatan yang diterapkan polisi di lapangan salah", kata temanku saat membalas sms ku tadi.
Sengaja saya turun langsung ke lokasi setelah melihat gambar tayangan sejumlah televisi saat memberitakan kasus bentrokan di Jeneponto yang menyebabkan seorang polisi meninggal dunia. Pertama-tama saya menarik kesimpulan, bahwa sungguh sangat bringas masyarakat kita. Sudah tidak adakah lagi cinta dan perasaan damai yang tertanam dalam benak warga dan petugas kita?mengapa dengan mudahnya mencabut pistol lalu menembaki warga dan mengapa pula dengan percaya dirinya seorang warga mencabut badik lalu menikam Briptu Darsin?Sungguh sebuah keberanian yang cukup "mengesankan",menikam polisi di tengah kerumunan polisi?. Teringat ketika saya meliput kerusuhan di Ambon tahun 2004 lalu. Sekelompok warga tiba-tiba menyerang wartawan lalu menghempaskan kamera di dalam kantor polisi. Wahh...di mana lagi ada keamanan kalau di kantor polisi saja kita sudah dipukul?...
Saya lalu ke Jeneponto. Pertama-tama menyaksikan keharuan yang sungguh sangat dalam di rumah korban, kompleks Polsek Kelara Jeneponto. Seorang ibu yang kira-kira baru berusia 27-an tahun menangis tiada henti dibalik tirai jendela. Lalu seorang bayi yang masih berusia setahunlah kira-kira-berada dalam gendongannya. Sesekali ia melihat ibunya,keningnya mengkerut lalu pandangannya diarahkan ke ibu-ibu yang berada di sekitar ibunya. Ia tak menangis,ia pula tak tertawa,ia hanya heran lalu kembali lagi ke pangkuan ibunya yang mungkin sudah puluhan liter air matanya jatuh ke bumi. Seorang gadis muda nan cantik juga tersedu melihat manusia yang terbujur kaku,terbungkus selimut berwarna kuning. Sang bayi kembali memalingkan wajahnya.Lagi-lagi, ia mengkerut dan matanya kemudian mengikuti gerakan tangan sang gadis tadi saat membuka kain penutup manusia yang terbujur kaku itu. Wajahnya pun kelihat dan sang bayi pun mau tak mau langsung melihatnya. "ba..ba..baba..pa'..'.hanya itulah yang keluar mulutnya kemudian ia pindah pangkuan ke tantenya. Sang tante kemudian menjawab "bapak lagi bobo'. ahhh....pilu juga hati ini mendengar dan melihat sang bayi tersebut. Lalu bagaimana ibunya harus menceritakan kelak kepada anaknya tentang kejadian yang dialaminya ayahnya sehingga meninggal dunia???....Untuk menjawabnya sungguh sangat gampang..tapi bagaimana menceritakan kepada sang bayi...?

Kembali ke soal bentrokan.
Kita bicara seandainya.
Selama yang kutau dan kusaksikan-selama ini polisi dalam melakukan pengamanan eksekusi-polisi hanya bertindak sebagai pengamanan. Artinya, pihak pengadilan menyewa buruh atau memang sudah ada tim eksekutor yang dibentuk oleh pihak pengadilan. Atau tim yang memenangkan perkara yang membentuk eksekutor lalu melakukan eksekusi. Nah, saat itu polisi hanya menjaga-jaga jangan sampai terjadi keributan antara kedua belah pihak. Jika terjadi keributan, maka polisi melerai mereka atau mengamankan salah satu pihak. Kalau toh ada keluar tembakan-itu hanya tembakan peluru hampa dan mengarah ke udara. Idealnya kan seperti itu.
Lalu apa yang terjadi di Jeneponto? Polisi melalui juru bicara Polda Sulsel sudah pasti membela korpsnya. Bahwa polisi sudah melakukan protap standar di lapangan. okey sudah cocok. Lalu arah tembakan ke arah warga juga sudah dinyatakan tepat mungkin?jelas terlihat di gambar tayangan televisi..banyak warga yang menjadi korban,luka-luka akibat terkena tembakan peluru. Tapi kulihat juga ada polisi yang tewas, ada polisi yang luka-luka dan jadi korban kebringasan warga. Bisa dibayangkan...!!!!!!!.sengketa keluarga mengakibatkan seorang penegak hukum tewas?di mana kira-kira nurani yang mempersengketakan tanah itu?apakah masih punya nyali untuk menguasai tanah tersebut?bukankah di atas lahan tanah ini bercucuran darah??...kelak jika anak Briptu Darsin melintas di jalan ini-sanggupkan ibunya menceritakan bahwa "nak..di lahan itulah ayahmu meninggal dunia"
Dalam laporanku kuucapkan seperti ini. "Seandainya kedua pihak bisa sama-sama menahan diri atau sadar atas posisi masing-masing maka mungkin tidak akan terjadi bentrokan di lahan ini yang mengakibatkan seorang polisi tewas. Artinya, seharunya polisi hanya bertindak sebagai pengamanan bukan pelaku eksekusi. Begitupula warga yang mempertahankan haknya. Kenapa harus menggunakan badik?lalu kenapa ia harus menikam polisi?begitupula polisi. Kenapa harus menembaki warga yang lain.apalagi yang sudah lari dan bersembunyi. Kenapa bukan hanya mereka yang menikam polisi-diamankan lalu dibawa ke kantor polisi kemudian dijadikan tersangka. Jangan melakukan pembalasan kepada yang lain"...

Sudahlah. Kejadiannnya sudah berlalu. Nasi sudah menjadi bubur. Begitulah peribahasa penyesalan. saya hanya berharap, polisi jangan pilih kasih dalam penanganan kasus ini. Kenapa saya harus bertanya seperti ini?bukankah yang menjadi tersangka sekarang adalah warga tapi mereka juga menjadi korban penembakan polisi?.
Kata temanku, ada yang salah dalam pola pendekatan. Sungguh kuberharap kepada Kapolri agar dalam mengajari HAM kepada polisi bukan hanya pada level atas saja atau polisi yang bertugas di perkotaan. Ajarilah dan berilah pemahaman kepada polisi yang bertugas di kampung-kampung,petugas yang bertugas di daerah terpencil. Karena mereka akan menemui masyarakat yang tingkat pemahamannya dan SDM-nya dibawa rata-rata. Lihatlah polisi di kampung-kampung. Mereka bergaul dengan rakyat-tanpa ada benang pemisah. Tapi sungguh menyedihkan jika benang kasih itu harus tercoreng hanya gara-gara kita kurang peduli kepada mereka.



Sabtu, 01 Desember 2007

Pekikan Bissu di Pangkep Menggelegar Ke Langit

Bagi warga Sulawesi-Selatan,istilah bissu bukanlah kata yang aneh atau ganjil buat telinga. Tapi warga berdarah Jawa,Kalimantan,Ambon,Papua dan Sumatra-Bissu pastilah agak terasa asing. Para peneliti budaya di Makassar sepakat, bahwa di Sulawesi-Selatan terdapat lima jenis Gender. Menurut penelitian anthropolog Australia, Sharyn Graham dalam research reportnya; Sex, Gender and Priests in South Sulawesi, Indonesia, IIASNewsletter#29 November 2002 27 , budaya Bugis mengenal empat jenis gender dan satu para-gender; laki-laki (oroane), perempuan (makunrai), perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki ( calalai), laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan (calabai) dan para-gender bissu (Lihat juga Manusia Bugis, C Pelras, hal 191). Jenis Bissu banyak disalah artikan dan dianggap identik dengan jenis calabai atau laki-laki yang berpenampilan perempuan, walau secara peran dan kedudukannya dalam budaya Bugis tidak demikian. Catatan Bugis kuno menyebutkan, Bissu adalah pendeta bugis kuno pra Islam. Saat ini bissu kebanyakan diperankan oleh laki-laki yang memiliki sifat kewanitaan atau berpenampilan feminim. Tapi bissu tetap membawa peran maskulin,misalnya membawa badik atau parang dalam penampilan sehari-hari. Dalam pengertian bahasa bissu berasal dari bahasa bugis yang artinya besi atau bermaksa bersih atau suci dan kuat. Mereka dikatakan Bissu karena tidak haid,tidak berdarah, atau suci. Tidak berdarah, karena Bissu ini sama sekali tidak mampu ditembus oleh parang atau timah panas. Makanya disetiap penampilan atau atraksi budaya, bissu selalu mempertontonkan kesaktiannya. Selain peranan Bissu sebagai penyeranta antara raja,manusia dan dewa pada zaman kerajaan, bissu juga dianggap suci. Makanya bissu diberi kepercayaan oleh raja saat itu untuk menjaga pusaka kerajaan. Untuk menemui Bissu, sebenarnya tidaklah terlali sulit. Meski komunitas Bissu semakin sedikit dijumpai di daerah bugis, tapi setidaknya masih ada sekelompok Bissu yang terjaga kelestariannya. Tengoklah misalnya aktivitas Bissu di Segeri Pangkep Sulawesi-Selatan.
Selama sepekan kemarin, tanggal 29 November 2007 komunitas bissu di Pangkep menggelar ritual mappasili atau ritual mencuci benda bersejerah Bissu. Ritual ini juga sebagai tanda dimulai warga Pangkep untuk turun ke sawah. Seolah menjadi kepercayaan warga Pangkep, mereka tidak boleh turun ke sawah sebelum para bissu ini menggelar ritual mappasili. Tanggal 29 lalu, saya berkesempatan menyaksikan salah satu ritual acara tersebut. Yakni, accera arajang yakni menurunkan atau memandikan benda bersejarah bissu. Sebelum saya diizinkan mengambil gambar, pemangku adat setempat mensyaratkan agar saya lebih dulu meminta izin. Namun izin kali ini bukan minta izin umumnya jika kita meminta izin kepada atasan atau seseorang. Saya bersama rekanku dari fotografer Antara diminta masuk ke salah satu ruangan bersama Puang Matoa atau pimpinan bissu. Di dalam ruangan itu sangat gelap karena hanya berukuran satu kali empat meter. Di kelilingi kain berwarna merah. Hanya kepulan asap dari dupa-dupa yang dapat kujumpai. Sesekali mataku melihat ke arah tatapan pimpinan bissu tersebut sambil komat-kamit membacakan beberapa mantra-mantra. Sepintas mataku melihat sebuah benda yang tergantung cukup panjang dan berwarnah putih. "apa itu. soalnya terlihat seperti mayat yang terbungkus", bisiku kepada kawanku. Tak lama kemudian, pimpinan bissu lalu menanyakan tanggal kelahiran dan tempat kelahiranku. Setelah itu, ritual izin pun selesai.

Ritual diawali pembacaan sejumlah mantra dari pimpinan bissu. Lalu bergumpalah asap berwarna putih mengitari ruangan tersebut. Dua bua parang lalu diberikan oleh salah seorang bissu kepada pimpinannnya. Suara pekikan keluar. Saya cukup kaget mendengarnya. Selain lantaran suaranya yang sangat melengking juga penggunaan bahasa bugisnya sangat aku tidak mengerti. Padahal dalam keseharianku, aku selalu bercakap bahasa bumiku-Bahasa Bugis."ah mungkin inilah disebut bahasa bugis kuno" sebutku dalam hati. Kosa kata yang aku kenal hanyalah kalimat "eee...puange.." artinya Oh Tuhanku. Sambil teerdengar suara iringan musik gendak,kecapi dan seruling dari sejumlah pemangku adat. Sementara bissu lainnya yang terlibat dalam ritual ini bertugas memukul-mukul sejumlah peralatan yang bisa mengeluarkan bunyi. Tapi anehnya, suara tersebut mengikuti irama mantra-mantra yang diucapkan pimpinan bissu.

Usai membuka ritual ini, para bissu kemudian masuk ke dalam ruangan-di mana tempatku tadi meminta izin seolah-olah bertapa. Prosesku mengambil gambar tidaklah sulit karena sebelumnya saya sudah masuk ke dalam ruangan ini. Bahkan saya bisa lebih dekat lagi kepada obyek yang kucurigai tadi. Bahkan tak ada yang melarang saat saya menyentuhnya. Di dalam ruangan itu, pimpinan Bissu mengambil posisi duduk paling depan. Posisinya duduk bertungku satu kaki. Sementara tangan kirinya memegang sebuah parang. Kalimat-kalimat atau bahasa yang membuatku bingung kembali kudengar. Lalu diikuti suara bissu lainnya. Oeeeee....hanya ini yang mampu aku terjemahkan. Suaranya pun, diawali suara kecil dan lama ke lamaan besar lalu mengeluarkan suara lengkingan. Panitianya mengatakan, itulah salah satu ritual meminta izin agar benda yang dianggap bersejarah itu dapat diturunkan. Katanya, pamali jika tidak dilakukan ritual seperti ini. Dan akhirnya, benda yang mencurigakan hatiku itu pun lalu diturunkan. Saya keluar menunggu untuk menyaksikan benda itu.
Tujuh pemangku adat bersama sejumlah bissu terlihat sangat sibuk membopong benda yang dibungkus kain putih tersebut. Panjangnya sekitar tiga meter. Tak lama kemudian kain putih pun disibakan. Lalu terlihatlah oleh sebuah kayu tua yang cukup besar. Kuamati lebih dalam lalu kusimpulkan. "benda ini seringkali kulihat kalau berada di kampungku. Apalagi melihat orang turun ke sawah. Ah..rupanya alat pembajak sawah.Orang bugis mengistilahkan Tekko" Benda ini katanya sudah berumur ratusan tahun atau sekitar tahun 1770an silam. Dan setiap tahun selalu diadakan ritual pencucian benda bersejarah ini. Setelah kain dilepas, satu persatu para bissu memandikan alat pembajak sawah ini atau orang bissu mengatakan Arajang. Puncak acara ini adalah mengarak keliling arajang ke kampung-kampung. Itulah mengapa disebut ritual mappasili atau sebagai tanda petani sudah harus mulai turun ke sawahnya untuk membajak sawah. Pantas saja, saat setelah alat bajak yang terbuat dari kayu ini dimandikan-lalu dibungku daun pisang dan dikelilingi tumpukan padi yang dalam berbagai ikatan. Orang Bugis menyebutnya balesse.


Tahun ini saya sangat beruntung menyaksikan ritual bissu tersebut. Karena tahun ini, kebetulan sejumlah komunitas Bissu dari daerah lain juga nampak hadir menyaksikan ritual tersebut. Untungnya lagi, karena terdapat dua orang-entah bissu atau bukan yang jelas perawakannya seperti waria-menyapaku dengan kalimat..halo sayang.."wah..mau disapa bahaya,nggak disapa jangan sampai benar-benar bissu." pikirku sambil kutinggalkan lokasi tersebut.
*****1/12/ano***