Langitku di Makassar

Blog ini berceritra dibalik sebuah peristiwa,keajaiban kehidupan yang kulalui selama hidupku..Ada saja hal yang terselip pada sebuah kehidupan..maka kutulislah dalam sebuah karangan kehidupan..juga ada kisah hati..selamat membaca....

Senin, 22 Oktober 2007

Bentrokan Karebosi: Kawan Vs Kawan

Hari Rabu pekan lalu-pecahlah bentrokan antar warga di Makassar. Kalau saya istilahkan,sebenarnya bentrokan itu bukan antara musuh vs lawan atau antara Pemuda Pancasila vs Pemuda Pancasila. Melainkan kawan vs kawan. Entah siapa yang diuntungkan dari bentrokan ini.

Sejak sat itulah situasi perpolitikan tingkat lokal Makassar makin meningkat. Dua kekuatan yakni keluarga Diza Ali berhadapan dengan kekuatan Ilham Arief Sirajuddin yang saat ini tercatat sebagai walikota Makassar. Dua asset kota Makassar ini bukan orang baru yang muncul di permukaan. Diza dan Ilham merupakan sahabat sejak dulu. Bersama-sama membangun Makassar,membangun olahraga khususnya sepak bola di kota Makassar,sering bersama dalam kepanitiaan,saling telpon-telponan,saling bersenda gurau dalam sebuah kesempatan.

Sementara pada level bawah-tim Diza Ali yang menggelar aksi unjuk rasa menolak revitalisasi lapangan karebosi, juga bukanlah orang yang baru muncul. Dulunya mereka adalah aktivis di kampusnya. Sementara mereka yang pro terhadap revitalisasi atau yang mendukung kebijakan Ilham Arief Sirajuddin tak lain adalah rekan-rekan seperjuangan yang tergabung dalam tim Diza Ali. Saat mahasiswa mereka bersahabat,satu visi,satu kegiatan. Sebelum pecah bentrokan pun mereka satu paham,sering berjalan bersama,saling telpon-telponan,bersama-sama duduk di warung kopi,bersama dalam satu kepanitiaan bahkan sesama pengurus dalam sebuah organisasi. Jadi bukan orang lain yang terlibat dalam bentrokan tersebut. Kebetulan, mereka juga adalah teman-temanku. Tapi sayang sekali,saat bentrokan terjadi saya sedang menikmati cuti liburanku di kabupaten Tana Toraja. Jadi wajarah jika bentrokan tersebut kuanggap kawan vs kawan. Bayangkan, baik otak penggerak massa maupun korlap di lapangan adalah sesama mereka.Hanya pada saat itu mereka berada dalam paham dan frame berpikir yang berbeda. Hanya saat itu..

Lalu apakah ini tindakan bodoh?
Saya pikir tidak. Sekilas, memang seperti itulah watak orang-orang bugis-makassar.Panas,cepat tersulutu emosi tapi yakinlah bahwa emosi ini hanya sesaat.Nilai-nilai kemanusiaan dan persahabatan masih lebih kental dalam darah orang-orang bugis-makassar.

Minggu malam-saya sempat bertemu dengan kedua kawan-kawanku yang terlibat itu. Mereka tertawa lepas,seolah tak ada beban tapi lucunya mereka masih berjanji akan bertemu di lapangan. Entah kapan,besok atau lusa.

Lalu siapa yang dirugikan dan diuntungkan atas kasus ini?
Selama masih kepentingan masyarakat umum-saya pikir kasus ini akan sangat merugikan kota Makassar jika masih terus belanjut. Bukankah revitalisasi ini nantinya akan bermanpaat bagi masyarakat umum. Akan dibuat empat lapangan sepak bola-di mana biaya satu lapangan mencapai rp. 6 Milyar. Lapangan basket,tennes dan lapangan volley. Sementara di bawah lapangan akan dibangun mall dan terminal dalam kota. Semuanya akan tertata dengan baik. Pemkot menyewakan fasum karebosi tersebut kepada swasta selama 25 tahun. Alasannya sangat sederhana. Pemkot tidak punya biaya merevitalisasi lapangan karebosi yang jumlahnya mencapai Rp. 130 milyar.

Yang diuntungkan? saya belum melihat sisi keuntungan dari bentrokan tersebut.Hanyalah kerugian yang banyak terlihat. Soalnya, mereka yang terlibat adalah teman-temanku juga dan mereka saling bermusuhan di lapangan. Bahkan banyak masyarakat yang tidak tau menahu tapi dilibatkan dalam aksi ini. Tapi saya yakin, badai akan selalu berlalu. Mereka yang terlibat ini akan bertemu lagi dalam suasana penuh keakbaraban.Karena mereka yang hidup,berjalan dan membangun Makassar ini adalah mereka-mereka juga. Bukan orang lain-merekalah jugalah yang menikmatinya. Yang penting, kami-kami rakyat kecil tetap hidup dalam kedamaian. Semoga tidak tercipta lagi bentrokan jilid dua.

Minggu, 21 Oktober 2007

Panggil Aku..KAWAN!!!

Ungkapan "Apalah Arti Sebuah Nama" kata William Shakespeare. Ungkapan ini mungkin bukan hanya terjadi dalam sebuah film.

Di kota Palopo atau jazirah Luwu dan sekitarnya ungkapan ciptaan Shakespeare tersebut benar-benar terjadi. Nama, seolah tidak perlu untuk dijadikan komunikasi sehari-hari. Tengoklah orang-orang di Palopo, tidak lagi menyebut nama dalam sapaan sehari hari.Bahkan untuk memanggil pun tidak menyebut nama melainkan KAWAN. Dua hari saya di kota tersebut, namaku ano-seolah terkubur. Setiap kutemui teman-teman kuliahku dulu di Makassar, aku sudah dipanggil KAWAN. "kapan tiba kawan..!!"..Wah kawan..makin tinggi saja..".."Halo kawan-apa kabar". "Tidak ada kawan...!!!.
"Kawan ada berita menarik kawan.seorang pencuri di potong jarinya oleh keluarganya kawan..!, kata salah seorang kawan di Palopo yang mengajak kawannya meliput di kantor polisi.

Begitulah kalimat yang sering kujumpai ketika mereka menyapaku. Bahkan sesama warga Palopo pun mereka saling menggunakan kata Kawan. Seperti ketika menunjukan lokasi "Di sana kawan..hati-hati saja kawan."..sambil menunjukan sebuah lokasi yang aku cari.

Saat bertemu dengan sesama rekannya-bahkan saudara sekalipun, selalu terdapat kata-kata Kawan untuk mengawali pemanggilan atau sapaan. "Ayolah kawan sudah waktunya kita pulang ke Makassar"kataku mengajak teman-temanku saat meninggalkan kota tersebut. Selama dua hari pun, nyaris sejumlah orang yang aku temani ngobrol-sama sekali tidak kuketahui namanya.Karena itu tadi, Kawan-kawan dan kawan seolah menjadi pengganti nama. "lihat ini kawan.masih tersedia syrup"teriak salah seorang kawan di Palopo..

Saya pun penasaran.Kucobai tanya kepada Pak Camat Wara' Palopo. Kawan Camat itu mengatakan, bahwa kata kawan telah menjadi bahasa sehari-hari warga Palopo.Kata itu menunjukan bahwa saat memasuki kota Palopo maka semua yang ada di kota ini adalah teman,sahabat hingga saudara. Untuk menunjukan bahwa kekerabatan menjadi hal yang utama dalam pergaulan sehari-hari di Palopo-kota Opu di Indonesia. Baiklah kawan..selamat membaca kawan...

Kamis, 18 Oktober 2007

Setelah 10 Tahun Baru Ke Toraja


Terakhir saya mengunjungi daerah wisata Tana Toraja tahun 1997 silam. Ketika itu saya masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Hasanuddin melakukan acara penutupan Pekan Nasional Pers Mahasiswa Indonesia.

Sekarang sepuluh tahun yang lalu-sejak tanggal 17 Oktober saya kembali mendapat izin mengunjungi Tana Toraja. Sungguh tidak terlihat perubahan drastis di sana sini- layaknya sebuah kota sepanjang sepuluh tahun terakhir lalu. Bangunan dan rumah khas Tana Toraja tetap eksis terlihat kokoh menjulang ke langit-bagaikan kars atau gunung batu Toraja yang kokoh. Tetap terlihat kuburan batu di berbagai sudut kubangan gunung batu yang cadas tersebut. Masih eksotik untuk kita saksikan.

Yang berbeda hanya terlihat pada kunjungan wisatawan atau turis bule'. Tahun 90-an silam-di mana ketika itu nyaris dua kali sebulan saya berkunjung ke daerah ini.Kebetulan saudara kandungku bekerja di Rantepao pusat wisata di Tana Toraja. Kota ini dulunya "hidup" 24 jam. Bule' lalu lalang mengitari kota Rantepao. Saya bahkan nyaris setiap saat menjumpai bule'-bule dari berbagai negara. Ada yang naik becak, ojek hingga mobil rental yang siap mengantar mereka ke lokasi wisata.Turis turis mancanegara tersebut seolah menjadikan Tana Toraja sebagai kampung halamannya. Saling kejar,duduk bersama warga lokal hingga mengikuti atraksi adu ayam,tradisi warga Tana Toraja.

Tapi saya tidak menyangka, ketika sepuluh tahun kemudian saya tiba di daerah ini. Kota ini tidak memperlihatkan sebagai kota wisata. Pasar Rantepao yang dulunya ramai dikunjungi wisatawan baik mancanegara maupun lokal kini nampak sepi. Nyaris yang terlihat adalah warga lokal atau Tana Toraja. Penjual yang dulu menjajakan souvenir Tator sudah dapat dihitung dengan jari. Itupun souvenir yang dijajakan terlihat sudah usang. "Ah...Tator...."

Bulan Oktober tahun ini terdapaat sejumlah upacara adat di daerah tersebut. Seperti biasanya, ada upacara rambu sulo,pemindahan mayat,adu kerbau hingga ma'badong. Semua terangkum dalam upacara kematian yang disuguhkan oleh salah satu keluarga besar di Rantepao. Lagi-lagi, selama dua hari saya berkunjung ke lokasi itu-hanya sekali saya melihat turis bule'. Selebihnya turis lokal dan warga Toraja yang ikut menyaksikan adu kerbau atau Pa'silaga tedong. Di kawasan lain juga terdapat upacara memasuki rumah baru.. Dan seperti biasanya-setiap upacara adat tersebut selalu dilakukan selama sepekan hingga sepuluh hari. Setidaknya selama saya di Toraja terdapat tiga upacara yang mereka gelar.

Sayang sekali, Toraja yang dulu bagaikan kota asing di Indonesia kini sudah tidak terlihat lagi. Tak ubahnya Toraja seperti daerah lainnya di Sulawesi-Selatan. Dan entah akan terlihat seperti apa lagi Tana Toraja jika kelak pemekaran Toraja Utara sudah terlaksana.

Sebenarnya kawasan wisata di Tator masih menawan untuk kita kunjungi. Seperti kuburan batu di Londa, kisah dua sejoli yang mati bersama dan hanya tinggal tulang serta rambutnya yang terhampar di tanah,rumah Toraja,upacara adat Toraja serta sungai untuk dijadikan arum jeram jugaa tetap menarik untuk kita kunjungi. Tinggal pemerintah dan warga setempat masih harus bekerja keras untuk mencapai kembali Toraja sebagai daerah wisata kedua di Indonesia setelah Bali.

Selasa, 16 Oktober 2007

Rupa-rupa Pesan Idul Fitri

Idul Fitri, hari raya yang membuat semua ummat Islam merasa suci baru saja terlewati.Lirik sebuah iklan di televisi "Setelah berpuasa sebulan lamanya.Tibalah kita dihari yang Suci".

Sampai hari ini, Selasa 16 Oktober 2007 riak Idul Fitri masih terasa kental. Bagi yang baru bertemu, pasti melakukan salaman lalu terbersit kalimat "Minal Aidin Wal Faidzin".Meski sebelumnya telah mengirim short massage service (SMS) via phonsel. Serasa belum afdol jika tangan ini belum menyentuh tangan saudaranya.Jika perlu salaman disertai dengan pelukan hangat. Bahkan jika di kampung-kampung, pelukan diiringi lagi dengan deraian air mata. Begitulah siklus Idul Fitri, yang setiap tahun kita lakukan bersama.

Dua hari menjelang hari raya idul Fitri versi pemerintah, atau mulainya sholat idul Fitri jamaah An Nadzir di Gowa Sulawesi-Selatan tanggal 11 Oktober 2007-pesan Idul Fitri via SMS mulai masuk ke phonselku. Dan hingga sekarang, sudah mencapai ratusan SMS yang masuk dan semuanya kubacai satu persatu. Berbagai ragam kalimat telah tercipta dan seolah-olah semua orang yang mengirim SMS ke saya tiba-tiba menjadi seorang pujangga atau penyair relegius. Menyampaikan pesan,keluhuran hati,keikhlasan,kerendahan dan tiba-tiba mengaku beribu dosa. Semua telah mengakui banyak dosa,kemunafikan baik yang terucap maupun lisan. Lalu membuka hati untuk dimaafkan agar hatinya benar-benar fitri. Berikut ini beberapa SMS yang telah kusadur dan kupilih-pilih.

"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H.Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Teruskan MMS ucapan ini ke rekan dan kerabat anda. Tarif MMS: Rp. 1000/MMS (maks. 300 Kb)"

Saya tidak perlu menuliskan dari mana asalnya.Pasti kita sudah tau semuanya. Semula saya tenang dan gembira membacanya. Tapi saat membaca pesan terakhir, barulah aku risau. Ya sopanlah sedikit. Jangan pesan idul fitri yang suci ini juga dikomersialkan.

Untunglah, di saat yang bersamaan sebuah SMS yang menyejukan terkirim ke phonselku.
"Ibnu Qoyyim Al-Jautsiyah berpesan. Ada dua sayap yang akan membawa kita ke surga. Ke-2 sayap itu a/SABAR & SYUKUR. Selamat berpisah RAMADHAN yang telah tumbuhkan sayap-sayap itu. Semoga tahun depan kita dapat menikmatinya lagi dan makin mengokohkan sayap-sayap yang kita punya. Insya Allah."

Nah, isi sms ini tak saya perlu membahasnya apalagi mencantumkan pesan sahabat nabi. Belum kapasitas saya untuk membahas. Tapi saya yakin dengan membaca kalimat SMS kedua itu-pastilah kita sudah tau maksudnya.

Ada juga SMS dari teman yang mau mudik atau pulang kampung.
"Mohon pamit.Hari ini saya pulang berlebaran bersama orang tua! Maaf Lahir & Bathin minal Aidin Wal Faidzin. selamat hari Raya Idul Fitri 1428 H!

SMS ini dari rekan saya yang saat itu telah pulang kampung menuju Kabupaten Soppeng Sulawesi-Selatan. Memang hampir setiap tahun rekan saya ini mudik, tapi untuk tahun ini ia hanya sendiri dan biasanya bersama rekannya yang juga sesama warga Soppeng.

Pesan SMS lain
"Ass WrWb. dgn sgl rndhati kmi sek.memhn maaf lhrbthin smg kt smua mraih kmnangan n dibri ks4n mnjmpai bln rmahan mndtang tqab4jji minna wa minkum...."

"Sengaja atau tidak, mungkin aku pernah salah ucap atau salah sikap.Dihari yg fitri ini,kuucapkan Minal Aidin Wal Faidzin.Mohon maaf Lahir Bathin..'

Dari aceh pun kudapati SMS:
bagaimana cerita lebaran di sana? sepi dan tenang kami di Aceh.selamat hari raya idul fitro 1428 H.maaf lahir bathin.

Ada yang lebi singkat lagi
"Selamat lebaran bung ano...."

"Dari segala kerendahan hati,saya haturkan permintaan maaf lahir bathin atas segala khilaf"

Seorang rekanku juga mengirim sms memakai bahasa Indonesia campur bugis
"Saling memaafkan cocok di 1 Syawal. Salamaki..."

Begitulah rupa-rupa SMS yang terkirim.Entah sudah berapa banyak untaian kata yang terangkai. Yang jelas, penyedia layanana SMS yang diuntungkan dari semua ini. Tapi semua itu tak dirisukan bagi mereka yang benar-benar menjadikan SMS sebagai keikhlasan,pertobatan dan pemaafan bagi semua saudaranya. Bukan kalimat kemunafikan atau hanya sekadar mengirim SMS sebagai bentuk siklus dalam kehidupan Idul Fitri.

Sentuhan tangan hanyalah fisik saja, tapi hatilah yang sangat menentukan. Apa bedanya dengan berdoa kepada Tuhan. Kita tak akan bisa melihatnya,mendengarnya apalagi menyentuhnya. Tapi antara hati yang tenang dan ikhlas-kita bisa bisa menjumpai Dia dalam segala hal.

Sunggu saya sangat sepakat ketika menerima SMS dari rekanku yang isinya seperti ini :

"Betapa lebaran bisa menegaskan banyak hal:Bahwa hidup hanya rangkaian yang terulang.Barangkalai seperti kapur yang dituliskan di papan hitam, dihapus lalu dituliskan kembali. bahwa luka,sakit,benci,sembuh dan memaafkan,batasnya begitu tipis.Juga pertanda kita begitu fana.Bahwa hati punya Tuhannya sendiri".

Akhirnya SMS ini kujadikan kesimpulan dari berbagai SMS yang terkirim ke phonselku. Kucari makna demi makna terhadap SMS yang masuk. Walau banyak SMS yang masuk-bahasanya sama dengan SMS dari yang lain. Istilahnya hanya copy paste. Cukup mengganti sign off-nya saja.

Entah suatu saat banyak orang-orang menjadikan Idul Fitri hanyalah hari penyucian diri sehingga terciptalah sebuah siklus kehidupan. Di mana orang selama sebelas bulan berbuat dosa,munafik,dan merusak hati. Dan akhirnya, tibalah hari raya Idul fitri, hari di mana semua ummat merasa suci dan bersih.

SELAMAT HARI RAYA RAYA IDUL FITRI. MOHONKAAN MAAF BUAT SAYA...

****ano****