Langitku di Makassar

Blog ini berceritra dibalik sebuah peristiwa,keajaiban kehidupan yang kulalui selama hidupku..Ada saja hal yang terselip pada sebuah kehidupan..maka kutulislah dalam sebuah karangan kehidupan..juga ada kisah hati..selamat membaca....

Kamis, 19 Juli 2007

Ada yang Sekolah-Ada yang Mengemis

Pekan ini isu soal pendidikan terus menjadi buah bibir. Bahkan bisa mengalahkan isu kekalahan sepak bola Indonesia dari Korea Selatan yang berakhir Rabu malam. Kekalahan Indonesia memang menyakitkan.Tapi sungguh sangat menyakitkan menyaksikan nasib pendidikan di negeri ini.

Anak-anak yang tampil dalam foto tulisan ini sejak lahir pasti tidak menghendaki akan menjadi pengemis atau anak jalanan. Sama dengan kita yang telah dewasa. Selama ini kita seringkali mendengar pendakwa moral dan religi bahwa ini adalah nasib.


Tapi bukankah Tuhan telah mengatur dunia bahwa ada yang disebut pemimpin yang mengatur sebuah negara dan menjadi wakil Tuhan di dunia. Sungguh, jika pemimpin kita sadar bahwa mereka adalah umara' sesuai istilah Islam maka mereka pasti akan serius memimpin bangsa. Tidak KKN.


Jika pemimpin kita serius memimpin bangsa, mengatur uang negara dengan baik maka saya sangat yakin anak-anak seperti ini tidak terlihat lagi di jalan. Mereka pasti sudah akan bersekolah dengan seusianya. Membawa tas,pensil, buku dan merasakan seorang guru-tanpa tanda jasa. Tertawa riang,saling mengejar. Bukan dengan membawa topi lalu mendatangi warkop-warkop atau keramaian untuk mengemis. Demi hidup. "Saya tidak pernah makan."jerit pengemis yang memakai baju kuning di atas. Aku tanya. "sudah berapa lama kamu tidak makan?'' bertiga sangat anak jalanan ini menjawab bahwa sudah empat hari. Aku malah tertawa mendengar. Bukankah kalau sudah empat hari tidak maka, maka akan mati? ya..secara logika kesehatan kan?..


Yah..beginilah nasib anak-anak di Indonesia. Jangankan bersaing atau untuk pintar bersama anak-anak yang sekolah? menjadi pengemis saja sungguh sangat tidak rasional. Lalu akan jadi apa mereka ke depan?


Bukankah negara sesuai Undang-undang diperintahkan untuk menjaga mereka,membiayai mereka lalu menyekolahkan. Ah...kalimat terakhir ini semua orang sudah mahfum. LSM,profesional,kaum pendidik semuanya seringkali menyebut kalimat undang-undang tadi.


****editor4no/07/07***

Rabu, 18 Juli 2007

Jangan Bersedih Bagi yang Gagal Sekolah

Sudah tiga hari ini pelajar mulai masuk sekolah. Sampai sekarang mulai dari TK,SD hingga SLTA masih menggelar MOS atau pengenalan sekolah mereka yang baru. Khusus bagi anak-anak kelas satu. Dan sudah tiga hari ini pula saya harus bangun pagi-pagi mengantar anak tertua saya Siti Alifah A Zahdiyah ke sekolahnya SD Al Azhar Makassar.

Sungguh indah dan lucu mendengar ceritanya baik saat mengantarnya sekolah maupun saat pulang ke rumah. Katanya sudah diajar Bahasa Inggris,musik. "Bapak, saya yang paling tinggi di sekolahku. Makanya saya disuruh berdiri paling depan trus disuruh pake dasi", ceritanya ketika pertamakali sekolah di SD tersebut. Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya. kalau melanjutkan pertanyaan maka alifah akan bercerita panjang lebar tentang pengalamannya di sekolah. Foto yang terpasang ini ketika Alifah bersama teman-temanku wartawan di Makassar saat pulang dari sekolah. Entah karena kelincahannya selama ini atau memang pola pikirnya telah berubah, maka dengan mudah Alifah mulai memetik gitar milik seorang pengamen di warkop Dg Anaz Jalan Pelita Raya


Menikmati bersama alifah pergi dan pulang sekolah memang sangat lucu dan saya bisa mengetahui betapa banyaknya perbedaan dengan sekolah-sekolah dasar negeri lainnya di negeri ini. Tentu dengan apa yang kurasakan dan melihat selama ini ketika aku liputan. Ada rasa aman ketika mengantar anak ini ke sekolahnya karena aturan yang diterapkan oleh sekolah tersebut.


Siang tadi, saya sempat ngobrol dengan sejumlah ibu-ibu dari desa nelayan di kota Makassar. Cerita pendidikan yang ditempuh oleh Alifah sangat jauh berbeda dengan kondisi anak-anak mereka. Bukan hanya itu. Puluhan anak-anak mereka terpaksa tidak mengenyam pendidikan atau gagal melanjutkan sekolah lantaran tidak punya biaya. Walaupun mereka dinyatakan lolos di sekolah dasar negeri. Kalau toh sekolah, tapi pendidikan yang mereka capai tidak memuaskan atau tidak maksimal. Bayangkan saja, guru di sekolah lokasi mereka adalah rata-rata guru kontrak atau honor. Itupun hanya tiga guru. "Kalau kontrak kan seenaknya saja datang mengajar". ujar Ibu jamrut warga desa nelayan.


Ahh...saya lalu kembali memikirkan dan menghayalkan sekolah Alifah. Ada perang bathin mendengar cerita tersebut.Bagaimana mungkin saya menceritakan ke mereka kondisi sekolah anak saya sementara kondisi anak mereka sungguh sangat memiriskan hati?Tapi bagaimana juga saya harus melihat masa depan alifah kalau harus bersekolah di tempat yang tidak jelas? Yah..kata Wapres Jusuf Kalla, pendidikan memang mahal. Tapi kalau kondisi masyarakat kita masih di bawah standar kemiskinan lalu system pendidikan kita masuh amburadul? bagaimana bisa rakyat Indonesia menikmati pendidikan yang layak?. Kata temanku seorang wartawan The Jakarta Post, pendidikan yang layak hanya buat orang kaya saja. Tapi orang sekelas saya, yang tidak kaya tentu harus memaksakan diri untuk menyekolahkan Alifah ke sekolah yang taraf pendidikannya jelas. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang diterapkan orang tuaku dulu saat mendidik anak-anaknya. Kini Alifah akan menikmati sekolah itu. Ya..semoga saja mereka yang sekolah di lembaga pendidikan yang berkualitas kelak nanti mengubah system pendidikan yang berkualitas di Indonesia. Mungkin bukan hari ini, tapi puluhan tahun mendatang. Amerika Serikat berubah tidak semudah membalikan telapak tangan, tapi setelah negara itu merdeka selama 400 tahun. Butuh sebuah proses.


***editor4no18/07/07***


Senin, 16 Juli 2007

Mengeroyok Uang 50 Ribu

Suatu hari ketika usiaku masih remaja.Ya..kira-kira lima belasan tahun yang lalu. Kini usiaku melewati satu strip 30-an tahun. Di sebuah kampung halamanku Siwa kabupaten Wajo, orang Bugis-Makassar menyebutnya kampung cengkeh. Tapi itu dulu, ketika BPPC tidak bermasalah.Ketika Tommy Suharto tidak mencampuri urusan tata niaga cengkeh. Hampir setiap pekan, saya bersama saudara-saudaraku dan teman sekampung ke kebun cengkeh yang cukup nun jauh di atas bukit.Kemudian di bawah mengalir sungai deras, airnya sangat jernih dan kami berenang ketika sore hari. Badan kami beraroma cengkeh.Sekali lagi, itu dulu.

Saat saya memetik cengkeh menggunakan tangga yang cukup tinggi. Kira-kira delapan meter. Di sampingku seorang ibu-ibu yang menjadi pekerja pemetik cengkeh di kebunku. Ibuku ngobrol panjang dengannya. Kudengar ibuku bertanya "anakmu yang di Ujungpandang (red. sekarang Makassar) sudah kerja". "Sudahmi bu'".sambil memetik satu persatu cengkeh. 'Kerja di mana" kata ibuku. Spontan pekerja cengkeh itu menjawab "jadi guru". katanya.

Ya..jadi guru. Aku yang mendengar pun kaget.Soalnya, yang kudapat kabar tentang kabar anak si ibu tadi kerja sebagai buruh. Entah si ibu itu bohong. Tapi dua hari kemudian,rupanya sang orang tua buruh itu menganggap antara guru dan buruh adalah sama. Sekali lagi, pendidikan di kampung-kampung sungguh sangat rendah.

Cerita ini kuungkit kembali dalam alam pikiranku pada hari minggu kemarin. Ketika saya menunggu korban kapal tenggelam di pulau Liukkang Pangkep, di hadapanku lalu lalang buruh pelabuhan. Menggunakan pakaian hijau-hijau, di bawah terik panas matahari sang buruh tak kenal lelah mencari uang. "Ramai kalau hari sabtu dan minggu pak"cerita seorang buruh lalu lari menghampiri sebuah mobil taxi yang membawa penumpang. Pekerjaan mengejar barang ini dilakukan setiap saat. Jika barang penumpang jumlahnya lebih dari sepuluh koli, maka biasanya penumpang tersebut menbayar Rp. 50 ribu. "Dari pada angkat sendiri pak naik di atas kapal.Keamanannya tidak terjamin. Bisa hilang di kapal, atau di sini".katanya serius. Tapi bukan berarti satu buruh penumpang harus membayar Rp. 50 ribu ke setiap buruh. Kadang sepuluh buruh mengeroyok barang penumpang tersebut lalu membagi hasil yang Rp. 50 ribu tadi. "Tidak ada yang marah" tanyaku?.

"Kita saling mengerti pak.Jadi siapa saja yang mau.Kalau barangnya sedikit kan masa harus sepuluh buruh yang angkut" ujarnya sambil menertawai rekannya yang nyaris jatuh mengejar sebuah mobil taxi. Cerita buruh mendapat penghasilan lebih besar ketimbang sekarang juga menjadi cerita lama. Itu dulu. Ketika maskapai penerbang tidak melego turun harga tiket. Sekarang dalam seminggu, buruh harian ini kadang pulang membawa uang sekitar tujuh puluh ribu ke rumahnya.

Buruh harian seperti ini kadang dalam dua hari tidak pulang ke rumahnya. Soalnya, biaya untuk pulang pun mereka harus save di kantong agar keluarga tidak kecewa melihat pendapatan para buruh ini. Apalagi jika hari libur. Silih berganti kapal masuk dan keluar dari pelabuhan Sukarno Hatta Makassar ini, sehingga membutuhkan tenaga ekstra untuk mengangkut satu persatu barang penumpang. Sedikit saja tenaga hilang,terkuras maka pendapatan akan makin berkurang. Bagi buruh pelabuhan, solidaritas sangat mereka junjung tinggi. Tapi soal kesehatan, adalah urusan masing-masing.


****editor4no16/07/07***

Calo' Berhati Pengamen

Tiga pekan ini naunsa warung kopi di Warkop Anas Jalan Pelita Raya Makassar nampak berbeda. Ada nuansa baru atas kehadiran seorang pelanggan yang sebenarnya tidak terlalu gandrung dengan kopi apalagi susu. Pelanggan itu tidak lain seorang broker atau calo'. Kehadiran seorang broker istilah bekennya para calo di warung kopi adalah hal yang lumrah karena memang salah mangkal broker jalanan adalah di Warkop.

Calo' ini boleh disebut pemula.Karena selama ini, Wawan nama broker pemula ini adalah seorang pengamen di kawasan Benteng Rotterdam Makassar. Wawan adalah jebolan Makassar Trotoar Music, MTM sebuah group musik alternativ pada zaman Orde Baru silam. Karena kondisilah, membuat Wawan memilih jalur sendiri dan kini memulai kariernya sebagai broker.
Ketika tiba di Warkop Anaz, Wawan nampak terlihat malu-malu dan agak segan.Soalnya, selama ini Warkop Anaz banyak dihuni oleh wartawan di Makassar.Mendekat,ngobrol sambil memanikan gitar akhirnya Wawan akrab dengan wartawan dan penghuni Warkop Anaz. Maka mulailah ia memainkan jurus. Sebagai broker pemula, wawan nampak karas memainkan perannya sebagai broker. Kadang “mangsanya” hanya tertawa mendengar silat lidah Wawan ketika menawarkan sesuatu. Mulai Motor,salon mobil,sepedea,Handphone hingga barang elektronik lainnya ditawarkan oleh Wawan.
Tapi selama sepekan ini, jualan wawan yang laris manis adalah motor. Itupun “mangsanya” adalah rata-rata wartawan. Pekan kemarin, tercata lima motor yang laku dijual oleh broker dadakan ini. Mulai dari harga Rp. 1,5 juta hingga Rp. 6 juta rupiah. Pelanggan Warkop menggunakan jasanya karena wawan terbilang gesit saat menguru jual beli motor ini. Motor bekas dapat dijual pada pagi hari dan akan terganti dengan motor baru berbagai merk pada sore hari “Tapi tunggu dulu. Semuanya serba kredit” Ujar Yusuf Ahmad, Fotografger Reuters di Makassar yang akan mengganti motornya Suzuki Thunder 125. Memang, rata-rata wartawan yang menjual motornya karena sudah uzur. Seperti motor miloik Ruzal Randa wartawan SCTV. Selain motornya sudah uzur tahun 2001,juga nampak sudah rusak. Kilometer sudah hilang, kaca spion telah patah,ban depan-belakang telah gundul. Wawan lalu menghargai Rp. 1,5 juta dan diganti motor Honda Revo.
Wawan, si calo pemula ini tidak menerapkan target fee jika barang jualannya telah laku. 'Tergantung kemurahan hati saja” kata wawan. Wajar jika Wawan masih malu-malu menerapkan fee terhadap “mangsanya”. Selain masih pemula juga karena memang seperti itulah perangai para pengamen. Jadi sifat-sifat pengamennya masih saja melekat dalam melakoni profesi barunya ini.
Di Makassar sendiri para pemilik showroom mobil umumnya melalui tahapan sebagai calo pemula. Bahkan ada yang memulai kariernya sebagai tukang tagih mobil yang bermasalah. “Dari situ saya tau jalur jual beli mobil”kata Haji Muazzakkar, yang kini mempunyai dua showroom di Makassar. Bahkan Muzakkar kini mempunyai aset Rp. 3 Milyar. Mulanya, ia hanya seorang tukang tagih dan tidak tamat sekolah dasar. Pria bugis itu, nyaris tiap tahun naik ke tanah suci.
Keberhasilan sejumlah calo mobil tersebut juga terpatri dalam hati Wawan. Siapa tau kelak, Wawam tidak lagi menawarkan motor tapi juga sudah berani menawarkan mobil mewah dan mempunyai sejumlah showroom. Sebuah pekerjaan rakyat yang berhasil tanpa merampas duit negara.

***editor4no16/07/07***

Rabu, 11 Juli 2007

Mimpi seorang tukang parkir


Bale-bale pun menjadi sandaran hidup. Beginilah gambaran tukang parkir serep di kota Makassar. Jika tukang parkir asli masih semangat mencari nafkah mengatur kendaraan yang terparkir maka sebagai tukang parkir serep ya terpaksa "diam".


Maun pulang? akan menjadi stress saja karena hanya bisa melihat dinding rumah, istri mencuci piring yang sebenarnya sudah bersih.Anak-anak bermain dari sisa-sisa permainan anak-anak berduit. Jadi tiada jalan lain, menunggu sambil tidur di bale-bale depan emperan kota. Wajah masyarakat miskin kota. Entah Makassar ini benar-benar sudah mulai kejam terhadap warganya atau memang warganya masih malas-malasan mencari pekerjaan lain.


Tukang parkir asli maksudku yang terdaftar di Pemkot Makassar kadang mendapat Rp. 30 ribu sehari. Ini sudah bersih di bawa pulang ke rumah. Membeli beras,gula, ikan dan makanan bagi anak-anak atau keluarga. Tapi bagaimana dengan tukang parkir serep?Namanya saja serep atau orang kedua. Tak pernah terbayangkan mereka bakal mendapat Rp. 30 ribu perhari. Bagi mereka, makan saja sudah cukup.


Ngobrol dengan tukang parkir seperti ini seolah menjadi rakyat yang sebenarnya. Apalagi jika sudah melihat orang-orang yang memikirkan nasib bangsa dan dirinya ngopi di warkop,makan di restoran. Ah, bagai melihat langit dan bumi dari jarak dekat.


Saya baru saja ngobrol dengan sejumlah teman. Mereka ngobrol panjang tentang pekerjaan,tentang kejenuhan. Ada perasaan frustasi. Tapi sekali lagi, dunia memang berputar. Entah esok hari sang tukang parkir seperti ini akan menemukan nasib yang baik sehingga kehidupannya berubah. Sebab jika dari rakyat menjadi "orang" maka keindahan dunia akan sangat terasa.


****editor4no11/07/07***

Selasa, 10 Juli 2007

Musim Dingin Kunjungi Makasar


Cuaca udara kota Makassar sejak dua terakhir ini terasa sangat sejuk. Beberapa warga Makassar pada malam hari terlihat menggunakan jaket sebagai selimut berjalan bagi tubuhnya. Kalau toh tidak menggunaka jaket, warga terlihat memakai switer atau kaos yang cukup tebal. Tak ada salahnya jika menyebut Makassar dilanda musim dingin. Ya, khas musim dingin ala Indonesia. Tapi jangan berpikir musim dingin yang terjadi di Makassar ini sama musim dingin ala Eropah, sebagian Asia seperti Jepang apalagi Tibet.


Yang jelas, udara sejuk yang melanda Makassar membuat warga terlihat sangat segar. Sejuknya udara Makassar bahkan terasa hingga ke tulang-tulang badan. Jika di kampung-kampung Bugis-Makassar para orang tua menyebutnya tikke'. Entah apa artinya. Bahkan orang tuaku pun seringkali menyebut seperti itu. Yang jelas, jika sudah terjadi musim seperti ini maka warga Sulawesi-Selatan sudah memastikan benar-benar 100 persen musim kemarau. Tak ada lagi hujan rintik bahkan hujan deras seperti bulan lalu.


Udara sejuk seperti ini akan sangat terasa sekitar jam 20.00 sampai 08.00 wita. Makin laru malam udaranya makin dingin. Apalagi jika sudah subuh hari. jika mendekati jadwal sholat subuh, kaki terasa sangat sulit untuk diangkat. Terbayang saat air menyentuh tangan, seolah air tersebut mengalir hingga ke dalam tubuh. Sungguh badan akan menggigil.


Sementara itu kumbang atau tanaman hias di halaman-halaman taman tumah warga juga makin terlihat mekar. Apalagi jika diberi tonikum pada sore hari, maka akan makin mekar karena cuaca sangat mendukung. Mekarnya kuncup bunga di tanaman makin membuat warga kesulitan untuk tidur karena terasa mengalihkan pandangan dari bunga yang tengah mekar itu. Jadi sekali lagi tak ada salahnya bila warga Makassar mengucapkan "Selamat Datang Musim Dingin khas Indonesia"


***editor4no/10/07/07***

Senin, 09 Juli 2007

Daeng Becak dan Badik


Hampir semua kota menengah di Indonesia mempunyai transportasi tradisional yang disebut becak. Meski bentuknya berbeda tapi tetap saja namanya becak. Di Gorontalo dan Manado warganya menyebut bentor atau becak motor. Bentuknya perpaduan antara motor dan becak.


Di Makassar hampir semua sudut jalan dilalui oleh becak. Bentuknya memang agak kecil dibanding becak yang ada di pulau jawa. Sadel atau tempat duduk pengayuh becak sejajar dengan body becak. Umumnya daeng becak di Makassar berasal dari Kabupaten Jeneponto Sulawesi-Selatan. Sehingga jika hendak menggunakan jasa becak cukup memanggil daeng becak.


Beberapa contoh cara komunikasi jika hendak menggunakan jasa becak "Daeng, Jalan Pettarani". Meski tidak disebut lokasinya atau kata nilai rupiahnya namun daeng becak sudah mengerti. Jika daeng becak menyebut nilai Rp. 2000, rupiah maka cobalah tawar sampai Rp. 1000 rupiah. Atau agar anda tidak dianggap orang baru di Makassar maka sebaiknya langsung saja menyebut nilai. Misalnya. "Daeng, Jalan Pettarani Rp. 750 nah.." Usahakan sedikit logat Makassar. Saat menyebut nilai, maka daeng becak menganggap bahwa pelanggan ini bukan orang baru di Makassar. Ya..bisa terhindarlah dari kecurangan daeng becak. Atau sedikit ngotot. Bilang "ah, kemarin saya naik becak cuma bayar Rp. 750." Ngobrolnya jangan ajak berdebat. Karena kalau berdebat atau nada suara kita lebih tinggi maka daeng becak akan meninggalkan kita. Pernah sekali saya nawar "Ah daeng..dekat sekaliji. Sana bisa dilihat dari sini"..Jawabannya daeng becak lebih enteng lagi "Sana langit di atas daeng.Bisa juga kita lihat"..
Jika ngobrol kita bersahabat dan saat daeng becak senyum dan memutar becaknya berarti daeng becak tersebut sudah sepakat. Rasa` persaudaraan telah mulai tumbuh.


Sehingga jika sudah seiya sekata dengan daeng becak Makassar maka kita tidak perlu lagi khawatir. Keselamatan dan keamanan penumpang bakal dijaga oleh daeng becak. Sekasar-kasarnya, atau segarang-garangnya daeng becak di Makassar tapi sangat menjaga dan menghargai penumpangnya. Di Makassar ada seorang tukang becak bernama Daeng Rani, rambutnya gondrong, tinggi, pakai kacamata hitam,bekas preman. Daeng Rani ini sangat terkenal di Makassar. Penumpangnya rata-rata perempuan. Soalnya, jika ada seseorang yang iseng terhadap penumpang maka Daeng Rani akan mengejar orang tersebut bahkan memukulnya.
Umumnya juga tukang becak di Makassar menyimpan badik atau parang di bawah tempat duduk. Gunanya, selain untuk jaga diri juga untuk keselamatan penumpang. Banyak daeng becak di Makassar juga digunakan jasanya mengantar-menjemput anak sekolah khususnya anak TK. Seperti yang dilakukan oleh St.Alifah A Tzahdiah. "Saya suka diantar daeng Tika ke sekolah. Tapi cepat sekali datang bela di rumah. Masih tidurki"Cerita Alifah.


****editor4no/09/07/07***

Minggu, 08 Juli 2007

Jeritan di tengah Malam


Mendengar atau membaca kalimat jeritan di tengah malam pasti yang dalam benak kita adalah lolongan burung hantu atau lolongan anjing. Sehingga membuat bulu kuduk merinding karena ketakutan.


Tapi malam di Makassar, jeritan tengah malam bukan teriakan lolongan anjing atau burung hantu. Melainkan teriakan penjual kacang goreng. "canggoreeeng....canggoreeeng......"Begitulah suara teriakan penjual kacang goreng saat melintas. Teriakan penjual kacang goreng ini sangat merdu karena di saat yang bersamaan terdengar suara nyaring lampu penerang. Jika pada tengah malam, tak terdengar lagi suara kendaraan maka teriakan penjual kacang ini makin halus dan menjadi penghibur buat telinga kita.


Penjual kacang goreng di Makassar akan terlihat jika pada musim kemarau seperti sekarang ini.Nyaris tak akan kita temui jika musim hujan. Bukan karena penjual kacang ini takut hujan, tapi lantaran lampu penerang yang ia gunakan pasti bakal mati jika terkena hujan. Begitupula kacang goreng yang hendak ia jual. Sudah pasti akan basah.


Sebenarnya bukan hanya kacang yang mereka jual. Di atas gerobak tersebut juga terdapat sejumlah cemilan untuk malam hari. Seperti gogos atau semacam lemper dan telur asin. Pokoknya, akan makin nikmat jika menjadi cemilan pada tengah malam. Kalau begadang di Makassar, cobalah menikmati racikan "hantu" kacang goreng Makassar.


***editor4no08/07/07***

Fenomena Bakso Mas Daeng


Tak perlu saya menjelaskan asal muasal kedua kata Mas-Daeng. Mas kan sudah jelas berasal dari Pulau Jawa sementara Daeng? Apalagi kalau bukan berasal dari Bugis-Makassar.Di Makassar sendiri, pelekatan kata mas sudah sangat fasih jika memanggil penjual bakso. “Mas satu mangkuk ya “begitilah jika lidah warga Makassar memesan bakso. Lantaran sudah sangat fasih menyebut mas terhadap penjual bakso maka hampir semua penjual bakso di Makassar dipanggil mas. Tapi itu dulu. Sekarang, sejak dua tahun terakhir ini bukan hanya warga asal Pulau Jawa yang menjual bakso. Bahkan orang Makassar pun sudah ada yang mencari nafkah sebagai penjual bakso.

Sepintas lalu nyaris tidak ada yang membedakan jika melihat penampilan penjual bakso ini. Mas dan daeng sama saja. Sehingga kadangkala pembeli merasa kecewa ketika mulai mencicipi baksonya. "Mas" bakso asal Makassar biasanya “menyembunyikan” diri terhadap pembelinya. Carannya, hanya menyebut kata ya atau harga baksonya saja. Sementara pembeli memanggilnya mas, lantaran mengira mas penjual bakso ini berasal dari pulau Jawa. Nantilah terasa bahwa bakso tersebut racikan tangan Makassar ketika memulai mencicipi bakso tersebut.

Suatu hari di hadapan saya melintas penjual bakso. Lantaran lidahku hendak merasakan semangkok bakso, saya pun lalu memesan semangkok. Sebelum memesan, saya teringat temanku yang pernah membeli bakso jika melihat gerobak baksonya kecil. Dia bertanya “kau mas atau daeng”. Bukan karena mencela racikan bakso tangan Makassar tapi memang harus lebih dulu memperjelas agar saat mencicipi kita tidak kecewa. Yang pasti, cita rasa bakso mas dan bakso daeng sudah sangat berbeda. Bukan hanya cita rasa, gerobak dan cara memegang sendok pun sudah sangat berbeda. Jika bakso mas mengetuk mangkok kedengarananya perlahan tapi pasti. Tapi jika bakso daeng, wahh...seolah-olah mangkok yang diketuk tersebut akan pecah. Belum lagi model gerobak. Jika bakso daeng, gerobaknya kecil dan mempunyai sambel yang agak kasar. Seperti foto yang saya tampilkan di atas. Gerobak tersebut salah satu gerobak mas daeng. Namun, baik bakso maupun mie-nya adalah racikan asli mas.

Meski demikian kedua penjual bakso mas-daeng ini tetap bersaing secara sehat dalam mencari nafkah atau pembeli. Jika terdapat satu penjual bakso di satu lokasi, maka penjual bakso lainnya bakal pindah lokasi atau mencari lokasi lain yang dianggapnya cukup menjanjikan.

****editor4no8/7/7***

langitmakassar: Kanal Seribu Jembatan

langitmakassar: Kanal Seribu Jembatan

Sabtu, 07 Juli 2007

Kanal Seribu Jembatan


Kota Makassar sejak tahun 90-an silam telah terbagi dua setelah pemerintah setempat membangun sungai buatan atau kanal. Terusan kanal inilah yang membela Makassar menjadi dua bagian, Makassar Barat dan Makassar Timur. Saya kebetulan berada di lokasi Makassar Timur, yang juga tak jauh dari kawasan terusan kanal. Manpaat kanal sangat dirasakan oleh masyarakat Makassar sehingga tidak dikenal lagi adanya siklus lima tahaunan seperti di Jakarta. Kalau toh hujan deras banjir tak akan menenggelamkan rumah atau paha orang dewasa. Hanya sebatas betis, itupun hanya genangan.


Tapi sudahlah kita berceritera tentang kanal dan banjir. Ada hal yang cukup membuat saya kadang senang dan senyum melihat aktivitas di sepanjang terusan kanal Makassar. Adalah banyaknya jembatan yang dibangun oleh swadaya oleh masyarakat. Kalau toh boleh dikatakan, terusan kanal Makassar ini bisa digelar kanal seribu jembatan. Memang tidak sampai seribu, tapi kan istilah bos...


Kediamanku terletak di kawasan Jalan Landak Baru Makassar. Di kawasan ini saja, terusan kanal antara Jalan Landak Baru hingga Jalan Sultan Alauddin Pasar Pa'baeng-baeng Makassar terdapat tujuh jembatan.Padahal jaraknya hanya satu kilometer. Belum kawasan lain. Tapi itulah jembatan, akan selalu bermanpaat bagi manusia. Hanya dua yang menjadi kekhawatiran warga kanal adalah ketika terjadi perkelahian kelompok dan anak-anak yang bermain di jembatan ini. Jika terjadi perkelahian kelompok antar gank kanal maka dengan mudah mereka saling kejar. Sementara bagi anak-anak yang sering bermain di kawasan ini akan dengan mudah jatuh ke kanal. Beruntunglah, anak-anak kanal menjadikannya sebagai latihan buat berenang. Jembatan di terusan ini bentuknya bermacam-macam. Ada yang terbuat dari sepuluhan bambu kemudian disatukan. Memakai istilah bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Ada pula yang terbuat dari kayu yang cukup kuat, kemudian dicor layaknya jembatan beton. Daya tahannya bisa sampai tiga tahun. Jika sudah rewot, nah disinilah anak-anak makin senang bermain. Menjadi jembatan ini sebagai ayunan.


Kawasan terusan kanal yang terbanyak jembatannya adalah terusan antara Jalan Sultan Alauddin menuju Jalan Kumala. Begitupula antara jalan Masjid Raya menuju jalan Bawakaraeng. Masalahnya di dua lokasi ini terdapat dua pasar tradisional yang sangat ramai. Jadilah bolehlah terusan kanal Makassar ini disebut sebagai kanal seribu jembatan. Soalnya saya belum menyebut terusan lain. Siapa tau daerah lain terdapat kanal yang melebihi jumlah jembatannya kanal Makassar,maka sebaiknya menggunakan istilah kanal sejuta jembatan. Tak apa kan?


Soal banyaknya jembatan ini bukan lantaran pemerintah Makassar tidak sanggup membangun. Tapi inilah bentuk solidaritas atau semangat gotong royong yang masih terpatri dalam jiwa orang-orang semi modern yang hidup di perkotaan seperti kota Makassar. Entah sampai kapan semangat seperti ini masih bergelora?mungkin jika kawasan kanal ini sudah dibangun gedung pencakar langit,perumahan elite,pusat perkantoran atau mall-mall. Dan jika benar hal itu akan terjadi maka tak ada lagi anak-anak kanal yang terjatuh hingga ke kanal bercampur lumpur lalu tubuhnya berwarna kehitaman. Galak tawa dari rekannya tak terlihat lagi sebagai tanda kegembiraan dan kegirangan. Tawa itu akan tergantikan oleh tawa bahak konglomerat,yang perutnya buncit lalu berkacak pinggang. Melihat orang-orang menangis karena tergusur.


Tapi ini belum terencana bahkan belum ada perencanaan dari pemerintah kota Makassar. Jadi kanal seribu jembatan masih bakal terlihat. Dan pada bulan Agustus depan akan semakin marak lagi karena akan dihiasi bendera kebangsaan,spanduk merah putih dan gapura. Sekali lagi, rakyat kanal memperlihatkan kepeduliannya buat bangsa ini.


****editor4no7/7/7)

Pesta 7-07-007


Hari ini tepat tanggal 07-07 2007. Penanggalan ini mungkin tidak hanya dijadikan sebagai hari baik bagi orang-orang Bugis-Makassar, tapi juga bagi suku lain. Orang Bugis-Makassar menilainya sebagai hari baik karena tepat tanggal 07-07-2007. Dalam bahasa bugis, tujuh artinya mattuju-tuju.Artinya segala urusan selalu tepat. Makanya pada penanggalan 07 ini sejumlah acara dilakukan di kota daeng ini.


Sekitar jam 08.00 Wita, saya sudah mulai aktivitasku.Mengitari Makassar dan mencari sebuah handphone CDMA. Puluhan toko Handphone telah aku lalu, namun tak satu pun phonsel yang kucari, yaitu Motorola W335. Kata penjual phonsel sudah sebulan phonsel itu tidak dijual. Harganya sekitar Rp. 700.000. Ah, akhirnya aku berjalan begitu saja dan tiba-tiba di hadapan terlihat segerombolan manusia menggunakan pakaian norak dan terang benderang di tepi jalan Bawakaraeng Makassar. Aku pikir, mungkin mereka mau unjuk rasa, atau siapa tau ada kecelekaan. Ah naluri jurnalistik ini memang selalu ada kapan saja.


Aku lihat segerombolan itu baru saja turun dari angkutan umum atau orang Makassar menyebutnya pete-pete. Sejumlah orang tua, ibu-ibu lengkap dengan pakaian baju bodo, pakaian adat Bugis-Makassar. Pakaian adat ini nampak terlihat seksi, apalagi jika digunakan oleh gadis-gadis Makassar. Karena bentuknya agak longgar dan transparan. Belum lagi warnanya yang huh..sangat kontras. Ada warna biru,merah,ungun dan pink. Sarungnya pun harus sesuai dengan warna baju bodo.


Rupanya hari ini, sejumlah warga Bugis-Makassar memilih sebagai hari perkawinan atau akad nikah. Seperti yang kulihat pagi ini. Puluhan gadis membawa sejumlah peralatan perkawinan atau disebut sebagai erang-erang. Yang membawanya memang harus gadis dari pihak pengantin pria. Diantara barang-barang tersebut, antara lain sepatu buat pengantin perempuan,alat rias,cincin,seperangkat sholat,kalung,gelang,sarung adat. Semuanya dibungkus lalu dibosara'kan. inilah salah satu prosesi perkawinan adat Bugis-Makassar,yaitu mapparola dalam bahasa bugisnya sementara dalam bahasa makassar disebut a'lekka.


Jika hendak melihat starata kekayaan orang Bugis Makassar maka dapat terlihat pada saat pesta perkawinan. Penampilan ekstrim akan terlihat jelas. Baju bodo yang terang benderang,gelang emas di tangan berkilauan hingga beberapa gram, kalung panjang hingga sedada.Belum lagi jika yang memakainya telah menunaikan ibadah haji ,Muhammaddarasulullah- maka kita akan melihat penampilan yang sangat kontras. Tapi memang begitulah kebiasaan orang-orang Bugis-Makassar. Mereka akan perlihatkan stratanya pada saat pesta perkawinan.


Buka hanya pesta perkawinan yang banyak digelar di kota ini. Grand opening sebuah perusahaan besar pun juga digelar, seperti yang dilakukan oleh Harian Fajar Makasar. Saat meresmikan Graha Pena Makassar, bosnya Alwi Hamu memilih tanggal 07-07-2007 jam 07.00 Wita. Serupa yang dilakukan oleh Pangdam Wirabuana, yang menikahkan anaknya di Jakarta tepat hari ini juga.


Inilah hari penggalan bagi orang Bugis-Makassar yang dianggap sangat baik. Berbeda dengan tahun lalu, saat tanggal 06-06 2006. Nyaris tidak ada yang memilih tanggal itu untuk membikin acara. Dalam Bahasa Bugis Makassar angka 6 adalah manenneng. Artinya sedih atau hari penuh kesedihan.


***editor4no07/07/07***

Jumat, 06 Juli 2007

Sinar Bulan dan Harga Ikan

Kenaikan harga ikan bukan hanya karena terpengaruh dengan kenaikan BBM,kesulitan nelayan oleh faktor ekonomi, atau timbulnya penyakit bagi ikan-ikan di perairan. Yahh..seperti virus flu burunglah.
Tapi orang Bugis Makassar, salah satu keunikan mengetahui harga ikan bakal naik adalah posisi bulan atau sinar bulan. Orang Bugis-Makassar menyebut "singara' bulan" atau bulan yang bersinar. Ini berbeda dengan posisi bulan yang tengah sempurna atau bulan purnama. Jika bulan purnama kan terlihat bulan yang bulat, terlihat utuh. Tapi yang disebut sebagai bulan bersinar versi Makassar adalah bulan yang tetap bersinar namun disekitarnya terlihat awan putih. Awannya pun mirip dengan sisik ikan. Jadi posisi bulan dikelilingi oleh awan putih yang mirip sisik ikan.
Meski demikian bulan tersebut tetap bersinar.Bahkan mampu menyinari seantero kota Makassar dan sekitarnya. Oleh nelayan malah mengatakan bahwa sinar bulan itu mampu menyinari hingga ke bawah air dimana ikan-ikan berenang.
Saat ini di kota Makassar antara bulan Mei,Juni hingga Agustus sesekali singara bulan tersebut muncul. Nelayan di Makassar sudah fasih betul akan siklus bulan itu. Zaman dulu atau masih di beberapa kampung-kampung di Sulawesi-Selatan jika singara bulan muncul pada malam hari, warga membikin pesta pada malam hari. Mereka menyebutnya pesta singara bulan. Sambil berkecapi,mengitari sajian khas makanan orang bugis-makassar mereka pun bernyanyi lagu-lagu Bugis Makassar. Tak ada lilin atau obor, karena bulan sangat bersinar dan angin sepoy-sepoy menambah semangat warga menggelar pesta singara bulan. Uniknya, bukan hanya satu kelompok yang menggelar pesat kecil ini. Dalam satu kampung, kadang tiga hingga empat kelompok menggelar singara bulan.
Oleh nelayan percaya bahwa bulan yang bersinar seperti ini, ikan-ikan di dasar laut atau di bawah air pada menyingkir. Umumnya ikan-ikan tersebut bersembunyi di karang sehingga para nelayan kesulitan mendapat ikan laut. Meski mereka berjam-jam di laut pada malam hari namun hasil tangkapannya tidak terlalu banyak seperti hari-hari lainnya. Praktis, mereka pun menaikan harga ikan.
Warga Makassar pun sadar jika singara bulan seperti itu terlihat di langit, maka esok harinya harga ikan bakal naik. Warga tidak risau atau resah karena kenaikan ikan tersebut tidak bakal lama. Paling lama sepekan dan harga ikan akan normal kembali. Dalam sebulan, jika musim kemarau paling singara bulan tersebut terjadi sekali sebulan.
***editor4no06/07/07)

BUKAN SEKEDAR NGOPI


Jalan-jalan ke kota Makassar tak lengkap rasanya jika tidak singgah ke Warung kopi. Di kota daeng ini memang terdapat sejumlah warung kopi.Mulai warung kopi di tepi jalan, sudut jalan atau lebih segarnya orang Makassar sebut panyingkulu’ hingga warkop yang dikelola semi modern.

Salah satunya adalah warkop Phoenam. Warkop ini didirikan sejak tahun 1946 silam atau setahun setelah Sukarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Hingga saat ini, warkop tersebut masih eksis dan pengelolaannya sudah sampai pada tujuh turunan. Sebenarnya dulu, warkop ini biasa-biasa saja meski dikelola oleh warga keturunan yang sudah lama menjadi warga Makassar. Orang-orang pada zaman itu, selalu mampir minum kopi sehingga mereka mengistilahkan Phoenam adalah tempat persinggahan. Karena memang zaman itu, banyak pengunjung yang bukan hanya sekadar minum kopi melainkan juga menjadikan warkop itu sebagai tempat persinggahan atau tempat beristirahat sejenak. Baik pegawai maupun pendatang yang hendak berlabuh meninggalkan Makassar. Kan lokasi warkop ini, pertamakali di kawasan Pelabuhan Makassar atau Jalan Jampea. Dan sampai sekarang, masih eksis.

Zaman terus berubah, keturunan pemilik Phoenam pun mulai memikirkan ekspansi warkopnya. Setelah membuka cabang di Jakarta, Warkop Phoenam dalam setahun saja kembali membuka cabangnya di kawasan Panakukang Makassar dan Mall Panakukang Makassar.

Berbeda dengan pendahulunya, di mana sebagian besar pengunjungnya hanya singga minum kopi. Kini, dua warkop phoenam di Makassar, seperti di Jalan Boulevard dan Mall Panakukang Makassar, bukan hanya sebagai tempat persinggahan sambil minum kopi. Di sini, para pengunjung sudah menjadikannya sebagai arena diskusi, ngomong politik,hingga konprensi pers. Setiap hari Rabu dalam dua pecan, sebuah radio berita di Makassar menggelar diskusi live di warkop ini. Membahas persoalan nasional hingga local kemasyarakatan.

Tidak sulit bagi perorangan atau lembaga menggelar diskusi di arena warkop phoenam. Soalnya, sebagian besar pengunjungnya memang dari kalangan professional,LSM,pegawai negeri hingga pengusaha. Pada jam-jam tertentu seperti pagi hari, antara jam 07.00 sampai 09.00 Wita pengunjungnya sebagian besar pegawai negeri. Jam 09-00 hingga 12.00 Wita pengunjungnya sudah umum. Kalau pegawai negeri, maka levelnya sudah level Kepala bagian hingga Wakil walikota. Jadi bukan staff biasa lagi, karena jadwal staff memang sudah lewat dan mereka sudah harus bekerja. Begitupula kalau kalangan swasta. Juga sudah pada level tertentu. Sangat klop bagi mereka, karena saat jam-jam tersebut, juga sudah berkumpul pengunjung seperi LSM, wartawan, pengusaha muda dan pengamat bahkan dosen-dosen sekalipun. Sehingga diskusinya pun cukup beragam. Di sertai asap rokok yang mengepul, tidak membuat para pengunjung resah. Suara galak tawa dari berbagai sudut beberapakali terlihat jika diskusi sudah mengarah ke hal yang lucu.

Sementara jika sebuah lembaga menggelar sebuah diskusi yang agak resmi, juga tak perlu buang-buang waktu membagikan undangan. Jika hanya menghadirkan peserta, tanpa mengundang pun peserta bakal banyak yang hadir. Apalagi jika menggelarnya pada jam 09.00 ke atas. Kalau live lewat radio maka satu persatu pengunjung berdatangan. Ada yang hanya ikut sekedar mendengar, tertawa jika lucu hingga memberikan apresiasi terhahadap masalah yang dibahas. Sangat unik dan pengunjungnya makin kaya akan argumentasi, ilmu dan pengalaman serta informasi. Soalnya, pengunjungnya pun memberikan argumentasi yang berbeda satu sama lain. Jadi jangan heran jika sewaktu-waktu ada istilah, kalau ke warkop phoenam maka kita akan ikut kuliah di mana dosennya boleh siapa saja. Di sini, saling menghargai pendapat sangat dijunjung.

Nyaris dalam sepekan, dilakukan satu hingga dua kali diskusi resmi yang live melalui radio. Apalagi saat ini menjelang Pilkada Sulawesi-Selatan, nyaris tiap hari pengunjung warkop selalu membahas calon gubernur dan trik kampanye yang dilakukan oleh calon gubernur Sulsel.Sekadang informasi, rakyat Sulsel bakal menggelar pesta demokrasi local pada bulan November tahun 2007. Belum ada penetapan resmi calon gubernur.Tapi auranya sudah merajuk hingga ke anak-anak TK sekalipun.

Nah, cerita-cerita tentang warung kopi phoenam rasanya akan makin berceritera jika sudah singgah merasakan nikmatnya kopi Phoenam. Bahan mentah kopi ini berasal dari Tana Toraja. Berbagai aneka sajian sangat cocok untuk menemani perdebatan kecil di warung kopi ini. Seolah-olah sajiannya menyatu dalam permasalahan yang kita bahas. Semakin sulit masalah maka semakin tebal pula rasa kopi yang disajikan. Tapi harga masih tetap sama.

*****@4no4/7*****

WARTAWAN DAN WARKOP



Bekerja di media yang jauh dari kantor pusat rupanya menguntungkan juga bagi pemilik warung kopi di Makassar. Banyak manpaatnya memang jika bergaul dengan wartawan. Dan sangat banyak pihak yang hendak bergaul dengan wartawan tapi mereka kesulitan menghadapi para pengedar berita ini. Tapi tidak bagi pemilik warung kopi Dg Anaz yang berlokasi di Jalan Pelita Raya Makassar.


Sejak setahun terakhir ini, mahluk manusia yang namanya wartawan nyaris menjadikan warkop tersebut sebagai kantornya. Bayangkan saja, jika sudah mulai jam 09.00 wita satu persatu sambil menggunakan moto,r wartawan dari berbagai media ini bermunculan. Ada yang Nampak baru mandi, adapula yang kelihatan belum mandi. “Tergantung di mana kita menginap.Kalau di rumahnya teman atau di jalan ya apa boleh buat.nanti sore saja baru saya mandi” cerita MN Fajar wartawan Fajar Tivi. Lain lagi cerita koresponden Jurnalis Indonesia, Djarot Jasmin. Wartawan yang baru mendaftar sebagai anggota AJI ini, memang punya rumah yang cukup jauh dari Makassar, tepatnya di Kabupaten Gowa Sulawesi-Selatan. Meski setiap malam harus begadang bersama wartawan muda lainnya di Makassar, tapi ia selalu menyempatkan bersih-bersih untuk memulai aktivitasnya. Kadang jam 08.00 Wita, Djarot sudah memesan kopi susu satu sloki.

Jadi untuk menemui wartawan di Makassar, sangat tidak sulit. Coba saja datang ke Warkop Anas, maka anda akan melihat berbagai raut dan penampilan yang duduk di luar warkop tersebut. Di lokasi inilah, sejumlah peristiwa dan berita digodok oleh wartawan-wartawan ini. Mulai isu local hingga isu nasional. Boleh dikatakan, suasana pada pagi hari layaknya rapat redaksi gadungan yang dilakukan oleh wartawan-wartawan ini. Ada yang datang dengan isu local, adapula yang langsung membawa informasi liputan.

Tapi tidak semua informasi yang mereka dapatkan langsung mereka liput. Sebelumnya, ada yang menggodok di meja lain dan adapula yang berusaha meyakinkan bahwa informasi tersebut layak untuk dijadikan berita. Jika ada yang tertarik, maka mereka saling boncengan ke lokasi tersebut untuk meliputnya. Dan jika ada yang tidak tertarik maka mereka hanya duduk sambil melanjutkan ceritanya di warkop Dg anaz. Di warkop ini tak ada istilah pimpinan redaksi, redaktur atau boz. Bahkan media pun semuanya sama. Seperti laiknya para koresponden, mereka semua adalah peliput atau reporter yang bertugas meliput di lapangan. Bertindak sebagai editor,redaktur hingga reporter “Ya inilah koresponden”, cerita Gunawan, wartawan detik.com.

Para narasumber juga kadang-kadang datang di lokasi ini untuk menggelar konfrensi pers. Bahkan ada yang membawa undangan liputan. Mereka hanya simpan di dinding warkop.Karena wartawan ini sudah paham, jika ada undangan buat mereka, tak perlu cari jauh-jauh. Di tempat ini, juga sekaligus wartawan menggodok peristiwa,memunculkan atau menciptakan berita hingga menjadikan tempat konsultan media. Tapi gratis, karena wartawan yang kumpul di warkop ini, “lebih baik mengutang ketimbang diberi uang atau dibayarkan oleh narasumber” ungkap Yussrank Uccang fotografer kantor berita Antara. Jadi praktis, Makassar tak pernah kesepian akan berita. Ada-ada saja peristiwa yang keunikan yang terjadi di kota ini. Beruntung sekali, karena hamper semua wartawan di Makassar mempunya jaringan yang cukup luas dan aktivis pada sejumlah lembaga di Sulawesi-Selatan. “Untuk meminta warga aksi dan mahasiswa unjuk rasa oooo…sangat mudah. Mereka kan teman-teman kita semua”, cerita Asrul, wartawan Global Tv.

Nyaris setiap hari, wartawanlah yang memadati warkop ini. Bukan saja karena kopinya murah, tapi lokasi ini memang terbilang cukup strategis. Bahkan bisa ngutang sekalipun. “Saya kadang minum kopi, makan kue tapi bayarnya dua hari kemudian.Bahkan kadang pula saya lupa.Untunglah pemiliknya baik” cerita Rizal Randa, koresponden SCTV di Makassar. Bukan hanya itu. Jika minum kopi, dan tiba-tiba ada liputan maka kita tak perlu buru-buru bayar, Bisa pulang dari liputan barulah kemudian di bayar.


Manpaat berkumpulnya bagi wartawan di Warkop ini bukan hanya bertujuan membagi berita,kordinasi liputan. Yang paling menguntungkan karena penempaan mental bagi wartawan juga kerapkali terjadi. Mulai dari saling mengerjai, membagi pengalaman hingga mendiskusikan angle berita. Jadi nyaris, persoalan yang mengemuka dalam satu liputan di Makassar hamper sama dengan liputan media-media lainnya “Kita harus mempunyai visi yang sama. Bahwa jurnalis adalah lidah bagi rakyat”..

****editor4no5/7/7****